[Sadis!!] Serempeten, Guru Ngaji Tewas Ditembak Polisi

-Kawasan Sepande Candi mendadak ramai. Pasalnya, Riyadhus Sholikin, warga RT 1 RW 1 Dusun Sepande, Kauman Sepande, Candi, ditembak sekelompok orang yang belum diketahui dari mana asalnya.

Korban yang kesehariannya sebagai sopir antar jemput buruh pabrik PT Ecco Indonesia dan penjual tempe ini ditembak usai mengantarkan jemputannya sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Korban ditembak di bagian jidat saat berada di RT 11 RW Sepande.

Dari informasi yang dihimpun, kejadian itu bermula ketika korban yang menaiki mobil Suzuki Realvan melintas di depan Ponti Jalan Lingkar Barat Sidoarjo. Di depan Ponti atau sebelah barat Gelora Delta itu, mobil korban ‘serempetan’ dengan mobil yang diduga milik anggota polisi.

Usai serempetan, korban tidak berhenti, namun terus melajukan kendaraannya. Lawan serempetan korban juga langsung mengejar dan sempat mengeluarkan tembakan peringatan. Pengejar juga sempat menembak ban mobil korban yang kemudian berhasil dihentikan di utara pohon ringin Sepande. ”Di situ korban dihadang dan ditembak saat berada di dalam mobil. Setelah itu, korban diseret keluar dan diangkut dengan mobil polisi jenis Xenia” ujar sumber di TKP, Jumat (28/10/2011).

Saat ini, jenazah korban dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk diotopsi. Dalam kasus ini, banyak anggota polisi, baik dari Polres Sidoarjo dan Polda Jatim, turun ke lapangan untuk melakukan investigasi.

Wakapolres Sidoarjo Kompol Leonardus Simarmata mengatakan, terkait kasus ini yang akan merilis adalah Polda Jatim. ”Rilis akan dilakukan di Polda Jatim,” tandasnya kepada wartawan. [air/isa]

Korban Tembak adalah Guru Ngaji yang Dikenal Tak Neko-neko

Riyadhus Sholihin yang diduga jadi korban penembakan anggota polisi di depan Mutiara Spa Sepande RT 11 RW 3 Candi, dikenal para tetangganya orang yang tidak neko-neko.

Selain bekerja dalam antar jemput karyawan PT Ecco Indonesia, suami
Maisyaroh yang tinggal di RT 1 RW 1 Sepande Kauman, Candi itu juga guru ngaji di desanya. ”Setiap paginya, korban juga jualan tempe keliling,” ucap Zainul tetangga korban, Jumat (28/10/2011).

Ditambahkannya, memang ada informasi kalau sebelum ditembak, korban dikabarkan terlibat serempetan dengan mobil diduga anggota polisi di depan Ponti. Korban tidak berani berhenti karena sepertinya takut dikeroyok. Korban lantas terus melanjutkan perjalanan dan melintas di Kampung Ringin (Pohon Beringin di Sepande). Disitu korban ditembak bannya dan sempat menabrak pagar.

”Korban kemudian diduga ditembak oleh pengejar yang jumlahnya sekitar sembilan orang,” tandas pria yang kebetulan saat kejadian lewat di TKP.

Pantauan beritajatim.com, saat ini di dekat lokasi masih banyak warga berkerumun melihat. Saat kejadian, juga banyak warga yang menyaksikan. Warga menduga, petugas menangkap tersangka narkoba atau kasus lain. Banyak juga yang mengaku tragis melihat kejadian.

”Banyak warga dini hari itu keluar rumah melihat kejadian itu. Tapi warga tidak berani mendekat,” terang warga Sepande Ringin yang tida bersedia menyebut namanya.

Sampai saat ini, bekas darah Himmatul dan Faiz masih terlihat berhamburan dan diuruk pasir. Bekas darah korban yang diduga bekas seretan juga terlihat membekas sekitar tiga meteran.

Polisi Tembak Guru Ngaji, Propam Polda Turun ke TKP

Tim Propam Polda Jatim saat ini turun ke Tempat kejadian Perkara (TKP) dimana Riyadhus Solikhin (40), sopir antar jemput karyawan Ecco sekaligus guru ngaji asal Sepande Kec Candi meregang nyawa di depan Kafe Ponti, Sidoarjo, Jumat (28/10/2011) dini hari.

PJS Kabid Humas Polda Jatim AKBP Elijas Hendrajana menyatakan, pihak Propam sampai saat ini masih melakukan penyelidikan atas dugaan salah tembak yang dilakukan oknum polisi dari Polres Sidoarjo.

“Kita belum menerima laporannya, sebab propam masih turun ke TKP dan belum melaporkannya ke kita,” ujar Elijas, Jumat (28/10/2011).

Perlu diketahui, peristiwa ini berawal disaat Solikhin pulang mengantar karyawan Ecco sekitar jam 2 dini hari. Tepat di depan Kafe Ponti, korban menyerempet kendaraan salah satu polisi.

Sayangnya kala itu Solikhin kabur dan dikejar beberapa anggota polisi. Polisi saat itu curiga kalau Solikhin adalah pelaku kejahatan, sehingga polisi pun menembak ke arah kaca depan dan tembus mengenai kepala. Seketika itu Solikhin meninggal dunia.

‘Masak Serempetan Saja Ditembak Mati’

Keluarga Riyadhus Sholihin warga RT 1 RW 1 Sepande Kauman Candi, tak mengira kalau hidupnya berakhir diujung timah panas yang diduga milik anggota polisi.

Sampai sekarang, Maisyaroh isteri korban yang masih terlihat syok. Dia tak mempercayai kalau suaminya lari dari tanggung jawab saat menyerempet. Informasi yang beredar, Sholihin melarikan diri usai menyerempet seorang anggota polisi di depan Ponti Jalan Lingkar Barat Gelora Delta Sidoarjo.

”Suami saya orangnya tidak berani melanggar aturan. Setiap harinya, dalam rumah tangga, selalu mendidik untuk jujur, baik kepada saya sebagai isteri dan dihadapan kedua anak,” tuturnya dengan meneteskan air mata, Jumat (28/10/2011).

Kata Maisyaroh, suaminya berangkat mengantarkan jemputan, karyawan PT Ecco Indonesia, keluar rumah sekitar pukul 24.00. Dan biasanya, jam 02.00 sudah pulang. Sesudah subuh, suamnya mengantarkan tempe ke pasar Larangan, sukodono dan lainnya.

”Jam 02.00 saya telepon, aktif tapi tidak diangkat. Dan paginya dapat telepon dari RS Bhayangkara, kalau jenazah Mas Sholihin di sana,” terang dia dengan kaget usai menerima telepon tersebut.

Ada juga warga yang bercerita, di Sepande Ringin (yang ada pohon beringin) dini tadi ada perampokan. Tapi dirinya tak mempercayainya.

”Terus ada kabar lagi, suami saya ditembak polisi karena melarikan diri usai menyerempet orang di depan Ponti. Dan saya juga tidak mempercayai itu. Saya yakin suami saya tidak bersalah,” tandasnya.

Narto keponakan korban juga menyayangkan tindakan polisi yang asal tembak itu. Ucap dia, meskipun itu kasus serempetan, mestinya harus diurus sesuai aturan yang ada. Dan tidak harus ditembak mati.

”Bisa jadi korban meneruskan perjalanan karena tidak merasa menyerempet seseorang. Masak serempetan saja ditembak mati,” papar warga Siwalankerto Surabaya itu.

Seperti diketahui, Sholihin ditembak mati saat posisi di dalam mobil Real Vannya nopol W 1499 NW usai terkejar dan ditembak dibannya di RT 11 RW 3 Sepande Candi. Korban meninggal dunia di TKP usai ditembak oleh diantara sembilan orang yang menghentikannya.

Informasinya, petugas yang diduga melakukan penembakan adalah anggota Reskrim dari Polres Sidoarjo yang usai acara di Kafe Ponti Rasa Sayang barat Gelora Delta.

Namun sampai saat ini, belum statemen resmi dari Polres Sidoarjo soal kasus penembakan terhadap guru ngaji dan penjual tempe ini. [isa/but]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: