Satu lagi TKI Terancam dihukum Pancung

UNGARAN- Hukuman pancung kembali mengancam tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Satinah binti Djumadi (39), TKI asal Dusun Mrunten Wetan RT 2 RW 3 Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, terancam dieksekusi karena dituduh membunuh majikan perempuannya bernama Nura Al Gharib pada 2007.

Selain itu, ibu satu anak tersebut juga disangka mencuri uang 37.970 riyal milik sang majikan. Meski dugaan pembunuhan itu sudah berlangsung cukup lama, kabar mengenai hukuman mati terhadap Satinah baru diterima keluarganya di Ungaran pada Maret 2011. Berita itu disampaikan seorang teman Satinah yang juga bekerja di Saudi.

Sebelumnya, Ruyati binti Satubi (54), TKI asal Bekasi, dipancung atas tuduhan yang sama pada 18 Juni 2011. Darsem binti Dawud Tawar, TKI asal Subang, juga divonis pancung, namun dibebaskan setelah mendapat pengampunan dari keluarga korban dan membayar denda.
Sementara itu, keluarga dan Pemerintah Desa Kalisidi terus memantau perkembangan kabar Satinah.

Satgas perlindungan TKI, Minggu (9/10), menyambangi keluarga Satinah. Kakak Satinah, Paeri (42), menjelaskan, adiknya berangkat ke Arab Saudi sebagai TKI melalui PJTKI PT Djamin Harapan Abadi di Jakarta pada 2003. Satinah dikontrak selama dua tahun. Dia pernah pulang pada 2007.

“Di rumah beberapa bulan, lalu berangkat lagi melalui perusahaan yang sama,” ungkap Paeri saat ditemui di rumahnya, Senin (10/10).
Sejak keberangkatannya yang kedua, Satinah memberi kabar selama satu tahun. Setelah itu, keluarganya kehilangan kontak. Ketidakpastian itu akhirnya terjawab pada 2011, tepatnya bulan Maret. Kabar itu menyebutkan bahwa Satinah dipenjara dan terancam hukuman pancung.
“Kabarnya Satinah membunuh karena membela diri. Tuduhan (pembunuhan) itu tidak benar,” lanjut Paeri. Pada 27 September 2011, Paeri diminta mendatangi LSM Migrant Care Jakarta untuk memberi penjelasan tentang Satinah.
Sebelumnya, pada 2009, dan juga tahun ini, keluarga dibantu pemerintah desa menyampaikan pengaduan ke Kementerian Luar Negeri. Namun, sejauh ini belum ada perkembangan positif.

Advokasi

Kepala Desa Kalisidi Dimas Prayitno mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan untuk membebaskan Satinah. Dua minggu lalu, dia bersama keluarga korban berangkat ke Jakarta.
“Baru pada Minggu kemarin Satgas Perlindungan TKI datang. Mereka memohon doa dari keluarga, upaya pembebasan Satinah sedang dilakukan. Kabarnya Satgas akan kembali berangkat ke Arab Saudi, besok (Selasa hari ini-Red),” kata Dimas.
Dimas menambahkan, Pemkab Semarang belum bertindak. Padahal, beberapa waktu lalu dia telah melayangkan surat permintaan bantuan advokasi kepada bupati dan Dinsosnakertrans.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang Romlah ketika dikonfirmasi semalam mengaku belum mendapat kabar soal Satinah. Selain karena baru menjabat beberapa bulan, dia juga belum menerima laporan dari staf.
“Kami siang tadi rapat soal TKW di Malaysia yang sakit tapi posisinya sudah di Indonesia. Belum ada laporan soal TKI (Satinah) di Arab,” ujarnya.
Ia berjanji akan mengecek dan memperhatikan kasus itu serta memfasilitasi semampunya untuk membebaskan Satinah. (K33-59)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: