Diserbu Kentang Impor, Harga Kentang Lokal Anjlok

Harga kentang dalam negeri anjlok akibat maraknya kentang impor dari Cina dan Bangladesh. Akibat beredarnya kentang impor itu harga kentang terus merosot hingga di kisaran Rp 4.000-4.500 sejak September 2011.

Merosotnya harga kentang dirasakan oleh petani kentang di Dataran Tinggi Dieng. Mudasir, seorang petani kentang dari Dataran Tinggi Dieng, mengatakan para petani bisa menjual kentang Rp 7.500 per kilogram. Sekarang harga jual menjadi sekitar Rp 4.000 per kilogram, sementara kentang impor di pasaran dijual Rp 3.500 per kilogram. “Ini tidak bisa menutupi biaya produksi kentang kami,” kata Mudasir, Kamis, 6 Oktober 2011.

Mudasir menambahkan, satu truk kentang lokal habis terjual dalam 2-3 hari, kini baru habis hingga tujuh hari. Akibatnya kentang lokal yang susut dan busuk meningkat. Petani banyak yang menunda panen hingga ada perbaikan harga dengan risiko diserang hama, sehingga kualitas memburuk.

“Kalau pemerintah terus memperbolehkan impor kentang, harga kentang lokal akan terus merosot dan petani akan mengalami kerugian yang amat besar,” kata Mudasir.

Belum lagi petani kentang harus berutang untuk membayar bibit, pupuk, dan pesitisida. Setidaknya untuk satu hektare lahan kentang membutuhkan biaya Rp 54 juta. Biaya tertinggi untuk membeli benih G-4 di mana per hektare diperlukan 1,2 ton dengan harga Rp 12.500 per kilogram setara dengan Rp 19 juta. “Belum lagi sewa lahan Rp 5 juta per musim tanam, lalu pestisida dan pupuk mencapai Rp 10 juta,” ujar dia.

Menurut Ketua Departemen Kajian Strategis Nasional Serikat Petani Indonesia (SPI) Achmad Yakub, setelah diberlakukannya Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Cina (ACFTA) 1 Januari 2010, lebih dari 6.600 komoditas dari Cina masuk ke Indonesia tanpa dikenai tarif masuk sama sekali (0 persen).

Komoditas yang masuk dalam kategori nol persen tersebut diatur dalam skema Early Harvest Program (EHP) meliputi hewan hidup, daging konsumsi, ikan, susu, buah-buahan, dan sayuran yang dikonsumsi kecuali jagung manis. Setidaknya terdapat 530 pos tarif lainnya yang resmi diberlakukan melalui Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 355/KMK.01/2004 21 Juli 2004 tentang penetapan tarif bea masuk dalam skema EHP.

“Langkah salah kaprah Pemerintah Indonesia yang menandatangani berbagai perjanjian perdagangan bebas, baik dalam kerangka ASEAN maupun secara bilateral, sangat merugikan sektor pertanian Indonesia,” kata Yakub.

Dia menyatakan pada 2006 volume ekspor kentang Indonesia mampu melampaui volume impor kentang sebesar 54.868 ton. Namun kemudian volume dan ekspor kentang Indonesia terus menurun.

Saat ini hanya produk pangan yang strategis seperti beras, kedelai, dan jagung manis yang masih memiliki aturan impor yang cukup ketat, itu pun selalu impor dengan berbagai alasan. “Walau sempat dibuka hingga nol persen selama beberapa bulan di awal 2011, pemerintah kembali mengembalikan tarif beras menjadi Rp 450 per kilogram per 1 April 2011,” ujarnya.

Menurut Yakub, petani Indonesia di sentra-sentra produksi kentang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara ,dan Sulawesi Utara mampu memenuhi kebutuhan kentang secara nasional. Konsumsi kentang nasional saat ini sekitar 2,028 kilogram/kapita/tahun atau sekitar 479 ribu ton per tahun.

siapa yg harus di salahkan?…
nasib petani yg tak menentu ditangan pemerintah yg tak menentu pula…
siapa yg di untungkan?….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: