Alasan Polisi Tak Angkat Telepon 112

Di tengah kepanikan akibat rumahnya diserang sekelompok orang, Nyonya Lita, warga Sumompo Lingkungan V Tuminting ini berinisiatif telepon ke layanan polisi di line 112. Namun sayangnya, saat menelepon, tak ada operator yang mengangkat.

Nyonya Lita merupakan istri Alex, seorang tokoh agama. Rumahnya menjadi sasaran orang tak bertanggung jawab pasca-terjadinya penikaman terhadap Willis Angga Balansa (16), seorang siswa SMK Kebangsaan (bukan SMKN 1 Manado seperti yang dilansir Tribun Manado dalam pemberitaan sebelumnya). Menurut Nyonya Lita, telepon itu dilakukan pada dini hari.

Selama ini, saluran telepon 112 menjadi pilihan warga ketika di tempat tinggalnya ada peristiwa tindak kriminal. Saluran telepon itu merupakan panggilan darurat
yang terkoneksi dengan sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) Polda Sulut.

Namun ketika warga menghubungi layanan itu, sering tidak aktif. Kalaupun aktif, layanan telepon bebas pulsa itu tak pernah diangkat oleh operatornya seperti dialami Nyonya Lita.

Terkait layanan telepon 112 yang tak berfungsi ini, pihak kepolisian beralasan bahwa karena line telepon itu sering disalahmanfaatkan oleh warga pada hal-hal yang tidak penting.

Misalnya sekadar iseng menanyakan nama dan alamat sang operator, minta uang ke polisi, maupun hal-hal yang semestinya tidak tepat sasaran seperti menanyakan bagaimana cara mengganti nomor handphone yang hilang, menanyakan tempat pembuatan kunci serep, dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak masuk akal ditanyakan melalui layanan 112. Bahkan lebih jeleknya lagi tidak sedikit cacian ikut dilontarkan oleh sejumlah penelepon.

Pantauan Tribun Manado di ruang layanan telepon 112, Senin, (3/10), tampak dua anggota kepolisian sedang siaga memonitor CCTV. Saat ditanya soal layanan telepon 112 keduanya buru-buru memasang kabel telepon yang terlepas dari pesawat telepon. Alasanya mereka sering kesal dengan ulah segelintir warga yang sering salah memanfaatkan layanan bebas pulsa itu.

Dalam 30 menit kurang lebih ada puluhan telepon masuk. Dari semua telepon yang masuk tidak ada satu pun yang manyakan hal-hal yang berhubungan dengan kepolisian, sebagaimana tujuan peruntukanya. Polisi berharap supaya warga dapat memanfaatkan layanan kepolisian ini dengan baik sesuai tujuanya.

Uniknya, tidak banyak juga masyarakat yang tahu tentang layanan 112. Seperti tergambar dalam survei sederhana yang dilakukan Tribun Manado terhadap 20warga Kota Manado. Ternyata hanya dua orang yang tahu bahwa ada nomor panggilan darurat 112.

“Memang ada nomor telepon darurat, berapa nomornya?,” ujar David Talumewo, pegawai SMU kr Eben Haezar Manado kepada Tribun Manado, Senin (3/10).

Ada juga responden yang mengakui hanya tahu nomor 147 untuk menghubungi nomor darurat. “Yang saya tahu hanya nomor 147,” ungkap Eden Manoppo, PNS Kabupaten Minut.

Untuk beberapa warga lain ketika ditanyakan akan menghubungi siapa jika ada masalah kebakaran atau tindak kriminal, mereka mengaku tidak tahu harus menghubungi kemana.

“Kebetulan waktu lalu ada masalah kriminal yang terjadi di dekat rumah, saya justru langsung melapor ke Polresta karena memang kantornya dekat rumah,” ujar Jemmy Sendow, warga Kelurahan Bumi Beringin.

Kekurangtahuan warga mengenai nomor panggilan darurat ini diakui mereka karena kurangnya sosialisasi ke mereka. “Bagaimana kami mau tahu, sosialisasi saja kurang,” ungkap Edwin, warga Kelurahan Teling Atas.

link

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: